KUBIL
Blog Pribadi Fikri Halfia R

Memotret Kondisi Pendidikan SMU Plus

ABSTRAKSI

Sebagaimana pendidikan pada umumnya, kita mengetahui bahwa pendidikan merupakan suatu kegiatan yang universal dalam kehidupan manusia, dimana pun di dunia ini terdapat masyarakat dan disana pula terdapat pendidikan. Meskipun pendidikan merupakan suatu gejala yang umum dalam setiap kehidupan masyarakat, namun perbedaan filsafat dan pandangan hidup yang dianut oleh masing masing bangsa atau masyarakat menyebabkan adanya perbedaan penyelenggaraan termasuk perbedaan system pendidikan tersebut. Penyelenggaraan pendidikn tidak dapat dilepaskan dari tujuan pendidikan yang hendak dicapainya. Hal ini dibuktikan dengan penyelenggaraan pendidikan di Indonesia.

Dengan melihat uraian diatas maka timbul suatu gagasan untuk mengangkat sebuah judul makalah “ Memotret Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Disekolah Menengah Umum Plus” Yang kemudian dari judul diatas akan diuraikan bagaimana metode pembelajaran smu plus dan factor yang berpengaruh kepada anak didiknya, yang didalamyan terdapat beberapa materi pelajaran diantaranya adalah Aqidah - Akhlaq, Al Qur’an - Hadits, Sejarah Kebudayan Islam (SKI), Fiqh, dan Bahasa Arab.


LATAR BELAKANG MASALAH

Pengajaran agama di sekolah umum bidang studi pengajarn agama itu masih tetap Pendidikan Agama islam, yang berisi materi pelajaran tauhid, akhlak, ibadah, tarikh islam, dan lain-lain. Dari mulai sekolah dasar sampai Sekolah Lanjutan Tingkat Atas namanya masih tetep Pendidikan Agama Islam, tapi pada lembaga pendidikan agama atau sering disebut Madrasah, pengajaran itu dibagi menjadi beberapa bidang studi. Ini karena tujuan instruksional sekolah agama atau madrasah itu mengarah pada pembentukan tenaga ahli agama yang menguasai ilmu ilmu yang dimuat dalam bidang studi itu. Mulai dari tingkat Ibtidaiyah sudah mulai diarahkan untuk tujuan itu1.

Dalam hal ini yang akan dibahas adalah pendekatan pembelajara dan metode pengajaran yang digunakan materi pelajaran yang ada di SMU Plus Daarul Istiqoomah, mulai dari kelas satu sampai kelas tiga secara garis besarnya, SMU yang akan dibahas adalah SMU yang terkait dengan pendidikan Kepesanterenan, jadi mungkin ada perbedaan metode pengajaran yang digunakan oleh para pendidik yang ada dalam sekolah tersebut, karena antar sekolah dengan Pesanteren menyatu menjadi satu lembaga yang statusnya sudah disamakan.


PEMBAHASAN

Untuk mengetahui metode pembelajaran di SMU Plus Darul Istiqoomah, adalah hal yang krusial untuk mengetahui terlebih dahulu tentang sejarah serta letak geografis. SMU Plus Daarul Istiqoomah ini merupakan lembaga yang berada dibawah Yayasan Pondok Pesantren Darul Istiqoomah yang terletak di Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat.

Kecamatan Cileungsi lokasinya merupakan perbatasan dengan DKI Jakarta dan Bekasih. Serta Kehidupa social budaya Masyarakat Cileungsi terbagi menjadi 3 kelompok yaitu :

  1. Kelompok masyarakat yang masih berpegang teguh pada budaya asli Bogor yang pengikutnya adalah generasi pertama

  2. Kelompok yang sudah terpengaruh oleh budaya baru (dari pendatang) seperti Pondok Pesantren, kelompok ini diikuti oleh sebagian kecil generasi pertama (orang tua keatas) dan sebagian besar oleh generasi kedua (anak) dan generasi ketiga (cucu kebawah).

  3. Kelompok yang sudah terpengaruh oleh masuknya budaya asing, kelompok ini diikuti oleh sebagian kecil generasi kedua dan ketiga.

Kondisi ekonomi warga Cileungsi masyarakat menegah keatas disamping mereka ada yang bekerja diperkantoran, pertokoan, perindustrian, pabrik dan sebagian supir angkutan umum. Mereka juga banyak yang mengelola penginapan (asrama kost) bagi para pendatang, membuka warung makan dan perbengkelan.

Metode pengajaran yang digunakan pada setiap bidang studi yang ada didalam Sekolah Menengah Umum Plus, antara lain:

  1. Bidang Studi Aqidah-Akhlak

Bidang studi Aqidah-Akhlak pada SMU hanya ada dari kelas I-II, pada materi ini, pengajar tidak hanya menggunakan buku paket dari DEPAG, tapi di tambah referensi yang diambilkan dari kitab kuning yang termasuk pendidikan kepesanterannaya. Pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah pendekatan keimanan, pambiasaan, keteladanan, dan rasional. Metode yang digunkan bidang studi aqidah-akhlak adalah metode ceramah, metode hafalan, dan metode drill, tapi lebih banyak menggunakan metode ceramahnya dalam penyampainya.

Dalam metode ceramah pengajar (guru) lebih aktif daripada peserta didiknya, dimana peserta didik hanya mendengarkan apa yang disampaikan oleh guru saya atau paling tidak mereka mencatat poin-poin yang telah dituliskan oleh guru saya di papan tulis dan beberapa keterangan yang mereka tangkap dari penjelasan guru saya. Namun dalam metode ini murid atau siswa seringkali mengalami kejenuhan dan kebosanan dalam mendengarkan ceramah dari para gurunya. Maka dari itu para guru mengambil kemungkinan metode yang lain yang dapat digunakan, seperti metode drill.

Dalam metode hafalan ini, para guru mengambilnya untuk menghafalkan dalil-dalil tertentu yang kiranya pentig dan menghhafal Al-Asma’ Al-Husna yang terdapat di kelas I, guru memberikan kebebasan kepada muridnya untuk menghafal dengan nadzoman atau hanya lafadnya aja.

Dalam metode drill ini para guru mengambil sisi lain, merivew kembali apa yang telah di sampaikan pada pertemuan yang sebelumnya atau dengan melontarkan bebetapa pertanyan yang harus di jawab oleh siswa/ murid yang di tunjuknya. Dengan alasan agar setiap murid selalu siap dalam menghadapi dan menerima materi selanjutnya, oleh karena itu setiap murid dituntut untuk selalu siap dan adanya pemacu semangat belajar untuk para murid.


  1. Bidang Studi Al-Quran-Hadits

Dalam bidang studi al-Quan-Hadits di SMU Plus ini sama seperti halnya mata pelajaran aqidah-akhlak, yang masih berkaitan dengan pendidikan kepesanterenannya seperti ayat atau dalil dari setiap materi yang ada dimaknai dengan makna gandul dari setiap katanya. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan keimanan, pembiasaan, dan keteladanan. Metode yang digunakan pada bidang studi ini, yaitu metode hafalan dan metode ceramah.

Dalam metode hafalan guru mewajibkan kepada para murid sebagai usaha guru dalam mengambil penilaian kefasihan dalam membaca al-quran dan hadis, lancar dan ketidak lancaran dari setiap muridnya. Hafalan ini dilaksanakan sebelum guru memberikan keterangan atas ayat/dalil berikutnya, dalam menghafalkan ayat atau hadits murid diberi waktu selama satu minggu sampai pertemuan besoknya, proses hafalan murid maju satu per satu, berdiri disamping gurunya sementara yang lain menghafal untuk melancarkan hafalanya.

Dalam metode ceramah guru menerangkan isi kandungan ayat yang belum dihafalkan oleh murid, terkadang disela-sela menerangkan guru menunjuk murud untuk membacakan ayat atau dalil yang berkaitan dengan materi yang dibahas, dan sebelum menerangkan guru menujuk murid untuk membacakan ayat yang akan dibahas dipertemuan itu, sedangkan pemaknaan gandul dilakukan oleh pendidik dengan system bandongan atau dikte, tapi untuk kelas III seringkali guru menunjuk muridnya untuk membaca makna gandul tersebut dengan cara bergiliran.


  1. Bidang Studi Fiqh

Kiranya bidang studi Fiqh juga tidak jauh berbeda dengan bidang studi sebelumnya, tapi mungkin ada perbedaan dalam metode pengajarannya, bidang studi Fiqh juga didukung dengan kitab kuning seperti Fathul Qorib sebagai acuan utama dari buku panduan dari DEPAG, dan dalam materi ini juga didukung dengan materi Usul Fiqh, Qowaidul Fiqh, dan Ilmu Faroid dengan referensi kitab juga. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan keimanan, pembiasan, pengalaman, dan emosional. Metode yang digunakan dalam materi ini adalah metode ceramah, demonstrasi, tanya jawab, hafalan, dan resitasi.

Metode ceramah, sepertinya sama saja yang dilakukan setiap guru bidang studi yang ada, namun dalam metode ini guru lebih menekankan karena materi fiqh sangat erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari yang menyangkut ibadah kita kepada Allah, terutama materi Thoharo, Shalat, dan Puasa. Dalam penyampaian materi ini, seperti disebutkan diatas dengan mengunakan kitab, yaitu memaknai kitab dengan makna Indonesia setiap katanya, dengan menyesuaikan materi yang diajarkan dan di sediakan dari depag. Sebelumnya guru menunjuk peserta didiknya untuk membacakan kitab kemudian disempurnakan oleh gurunya.

Metode demonstrasi, maksudnya guru menunjuk satu atau lebih untuk mendemontrasikan materi yang sedang dibahas atau materi yang telah lalu, seperti mendemonstrasikan tayamum, pengurusan zenajah, dan lain-lain, mungkin dalam metode ini lebih dispesifikan lagi dalam materi pelajaran sendiri yaitu pelajaran keterampilan agama. Sedangkan guru hanya sebagai pengarah jalanya demonstrasi yang disenggarakan didalam kelas atau diluar kelas.

Metode tanya jawab, maksudnya anak menanyakan sesuatu materi yang belum difahaminya, atau guru menanyakan pada muridnya untuk memancing anak bertanya dan melihat kemampuan hasil belajar anak didiknya selama belajar dikelas dan kepahaman mereka mengenai materi yang telah diberikan, Tanya jawab sering dilakukan karena adanya permasalah yang telah dialami anak didik dan tidak tahu pemecahannya mengenai hukum islam.

Metode hafalan disini dimaksudkan supaya anak mengafal dalil-dalil yang berkaitan dengan materi pembahasanya dan mengafalkan tahlil dan do’a-do’a yang sebagai tambahan dari gurunya sendri yang diambilkan dari kitab-kitab pendukung sebagi bahan materi pelajaran Katerampilan Agama. Dalam proses hafalan sama seperti materi Quran-Hadits murid maju satu persatu di samping gurunya, tapi untuk waktunya menyesuaikan.

Metode resitasi, anak diminta untuk mengerjakan tugas latihan yang telah diberikan gurunya, seperti untuk mencari dalil-dalil yang berkaitan dan mengerjakan tugas pendalaman materi, seperti ilmu faroid atau pembagian warisan. Namun ilmu faroid ini diperdalam lagi dalam mata pelajaran ilmu faroid sendiri.


  1. Bidang Studi Sejarah Kebudayaan Islam ( SKI )

Khusus pada bidang studi SKI, hanya ada pada kelas tiga yang mana sebagai pengganti materi Aqidah-Akhlak yang telah dihilangkan pada kelas III. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan keimanan, keteladanan, dan fongsional. Metode pengajaran yamg yang digunakan adalah metode ceramah dan resitasi.

Metode ceramah yang digunakan adalah guru menerangkan semua materi yang ada, guru lebih aktif di kelas sedangkan murid aktif di luar kelas, dalam artian guru memberikan tugas sebagai bahan latihan anak didiknya. Dalam metode ini bisa menggunakan metode cerita karena materi SKI lebih mengenang pada anak didik dengan menggunakan cerita, walaupun tingkatan kelasnya sudah tinggi. Tapi seringkali murid mengalami kejenuhan oleh karena itu, murid seringkali memanfaatkan vasilitas yang ada di kantor yang telah menyediakan VCD SKI yang di putar di aula sekolah yang terletak didepan kantor.

Kemudian guru menerangkan isinya yang dikaitkan dengan.metode resitsi digunakan untuk memberikan keaktifan anak, karena anak didik tidak aktif di dalam kelas, maka guru menuntut anak didiknya aktif diluar kelas dengan memberikan penugasan seperti yang telah dipaparkan diatas.


  1. Bidang Studi Bahasa Arab

Mungkin dalam bidang studi Bahasa Arab, tidak termasuk dalam materi Pendiddikan Agama Islam, namun pada umumnya di Madrasah Aliyah negeri bahasa masuk dalam materi Pendidikan Agama oleh karena itu saya akan manguraikan metode pambelajaran bahasa arab yang ada di SMU Plus. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan pembiasaan dan rasional. Sedangkan metode yang digunakan adalah metode pembelajaran ceramah, hafalan, drill, dan resitasi.

Metode ceramah adalah guru menerangkan materi yang khususnya yang berkaitan dengan Qoidah Bahasa Arab, yaitu mengenai Nahwu dan Sharafnya, namun dalam bahasa arab guru tidak memperdalam Qoidahnya, tapi dari segi tata bahasanya dan mufradatnya, karena Qoidah nahwu-sharaf sebagai alat dan pendukung utama untuk memahaminya diperdalam lagi pada bidanga studi Nahwu-Sharaf sendiri sebagai materi kepesanterenan yang pokok, jadi Bahasa Arab adalah sebagai penerapan dan praktek pendalaman materi dari Nahwu-Sharaf.

Metode hafalan, yang dimaksudkan adalah untuk menghafal mufradat dan percakapan bahasa arab yang diperaktekkan didepan kelas dengan gaya bahasa arabnya. Proses hafalan mufradat dimaksudkan untuk menambah mufradatan murid dalam bahasa arab sehingga pada waktu menerjemahkan murid tidak kesulitan untuk menerjemahkannya, biasanya hafalan ini sama seperi hafalan Quran-Hadits yaitu satu persatu maju di samping gurunya.

Metode drill, digunakan sebelum mulai materi yang baru murid disuruh membacakan qiroah atau hiwar secara bergantian kemudian meterjemahkannya, kemudian baru disempurnakan oleh gurunya dan dilakukan setelah guru menerangkan Qoidah bahasa arab, sebagai latihan untuk mengetahui apakah murid faham atau tidak dengan qoidah yang telah diajarkannya itu, yang kemudian maju satu persatu menuliskan pekerjaannya di papan tulis dan hasil pekerjaan di nilai atau di paraf sebagai pemicu semangat belajar para murid.

Metode resitasi, di gunakan untuk memberikan pemahaman lebih lanjut yang dikerjakan di asrama secara berasama-sama, terhadap qoidah yang telah diberikan yang di kaitkan dengan nahwu-saraf dan penerjemahan yang akan dikumpulkan sebagai bahan penilaian terhadap kemampuan muridnya.


KESIMPULAN

Berkenaan dengan metode pembelajaran diatas, merupakan salah satu pengaruh dari suatu lingkungan pesantren yang didalamnya terdapat suatu lembaga sekolahan. Menurut definisi yang luas ini, ternyat dalam lingkungan kita atau sekitar kita tidak hanya terdapat sejumlah faktor pada suatu saat, tetapi terdapat pula faktor-faktor yang lain yang banyak sekali yang secara potensial dapat mempengaruhi perkembangan tingkah laku kita.2

Untuk melaksanakan pendidikan islam dilingkungan ini perlu kiranya memperhatikan faktor faktor yang ada didalamnya sebagai berikut3:

  1. Perbedaan Lingkungan Agama

Yang dimaksud lingkungan ini adalah lingkungan alam sekitar dimana anak didik berada, yang mempunyai pengaruh terhadap perasaan, dan sikapnya akan keyakinan atau agamanya.

Dengan faktor yang demikian itu yakni yang menyangkut pendidikan agama perlu anak didik diberikan pengertian dan pengajaran tentang keimanan. Allah telah menciptakan manusia dan seluruh alam ini dengan berbagai ragam, mulai keyakinan, keagamaan, jenis suku bangsa dan sebagainya.

Adapun lingkungan yang berpengaruh terhadap anak didik ini, dapat dibedakan menjadi tiga kelompok:

  1. Lingkungan yang acuh tak acuh terhadap agama

  2. Lingkungan yang berpegang teguh kepada tradisi agama

  3. Lingkungan yang mempunyai tradisi agama dengan sadar dan hidup dilingkungan agama

  1. Latar Belakang Pengenalan Anak Tentang Keagamaan

Disamping pengaruh perbedaan lingkungan anak dari kehidupan agama, maka timbul masalah yang ingin diketahui anak tentang seluk beluk agama, masalah-masalah tersebut perlu mendapatkan perhatian yang sepenuhnya dari pendidikan. Untuk memecahkan masalah-masalah ini perlu adanya pendakatan terhadapa anak, didik untuk memberi penjelasan dan membawanya agar anak didik menyadari dan melaksanakan apa yang diperintahkan dan yang dilarang agama, serta mengerjakan hal-hal yang baik dan beramal shaleh. Oleh karena itu, para pendidik baik orang tua, guru dan orang-orang dewasa harus membawa anak didik kearah kehidupan sesuai dengan ajaran agama(islam).












KRITIK DAN SARAN

Kritik dan saran yang kami berikan dalam metode pembelajaran di SMU Plus, mungkin dari segi penyampaian setiap materi hampir seluruh guru bidang studi mirip bahkan sama, mungkin karena para dewan gurunya yang sudah sepuh dan termasuk guru lama yang kolot menggunakan system pengajaran lama yang dianggapnya lebih baik dan efektif daripada system pengajaran yang sekarang, yang dikaitkan kurikulum dengan menggunakan system kurikulum berbasis kompetensi seperti sekarang ini.

Mungkin dalam pembelajaran dengan menggunakan metode hafalan yang hampir setiap materi yang ada, akan menjenuhkan dan membebankan murid,terutama murid yang kemampuan hafalannya lemah dan kemampuan menangkap materi juga lemah, maka akan melemahkan semangat belajar karena merasa tertinggal dengan temannya kemampuannya bagus, sehingga dia akan mempunyai tumpukan hafalan yang belum bisa ia setorkan sedangkan waktunya sudah habis. Saran kita bagaimana jika metode hafalan yang diwajibkan dan diterapkan hanya pada materi quran-haditsnya saja dan yang lainya tidak usah tapi diganti dengan memberikan penugasan atau diskusi saja sekalian untuk melatih anak didik berani berbicara didepan umum.

Untuk pembelajaran yang terkait dengan kepesanterenan saya kira bagus sekali, namun jiak system pembelajarannya tidak dicampurkan denga pendidikan dari Depag, maka akan lebih memudahkan anak didik dalam memahaminya, seperti pada mata pelajaran Fiqh dan Quran-Hadist dalam pemaknaannya hendak tidak diprioritaskan, demi mencapai tujuan bempelajaran yang telah disediakan oleh kurikulum depag yang berbasis kompetensi, memang bagus untuk melatih anak dalam membaca kitab tapi kurang baik untuk pemenuhan tarjet belajar yang sudah disemakan dengan Madrasah Aliyah oleh depag yang berbasis kompetensi untuk sekarang ini.

Jika dilihat untuk kurikulum yang sekarang memang kurang bagus, tapi banyak juga yang beranggapan suatu metode pembelajaran yang baik dan tepat sekali untuk sekolah yang manjadi satu dengan lambaga pesantrenan, yang menerapkan system pembelajaran yang berbasis pesantren, yang mana sekolah ada didalam lembaga pesantrennya yang ada dibawah naungan Yayasan Pondok Pesantren.


1 Dr. Zakiyah Darajat,dkk. Metodologi Pengajaran Agama Islam. Bumi Aksara. Jakarta. 1996. hal: 93

2 Drs. Puwanto Ngalim,MP. Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis.PT Remaja Posdakarya. Bandung. 2002. hal 73

3 Dra. Zuharini, dkk. Filsafat Pendidikan Islam. Bumi aksara, Yogyakarta. 2004. hal 173


0 komentar:

Posting Komentar

My Blog List

Followers